Gue ada satu buah cerita yang inshaaAllah bisa merubah pola pikir kalian semua. Silahkan di baca baik baik, di cermati isinya, di pahami maksudnya, dan renungkanlah. Happy Reading! bitch hahaha
Sudah lama aku tidak pulang ke rumah ayah
bundaku, rumah di tengah pedesaan kecil bernama desa Mekar Asri. Cukup
lama aku tinggal di sana, malah sampai usiaku hampir dewasa. Namun
gejolak emosi mudaku yang ingin pergi ke tempat-tempat yang berbeda
membuatku jengah berada di sana, aku ingin mengelilingi dunia. Dimana
aku akan melihat tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi
sebelumnya, aku sudah siap menghirup udara segar yang belum pernah ku
hirup. Berbekal tekat yang sudah bulat, ku tinggalkan ayah bundaku. Aku
pergi ke kota, Jakarta namanya. Kota yang akan menjadi pintu awalku
untuk melihat dunia, di sana pula aku akan meneruskan pendidikanku. Buah
hasil jerih payahku belajar di hamaran cahaya lampu minyak yang temaram
hampir setiap malam, aku diterima di universitas paling bonafit di
Jakarta. Namanya Universitas Indonesia, orang di desaku sebagian besar
tidak ada yang tahu seperti apa tempat itu. Tapi para saudagar dan tuan
tanah hampir semuanya berdecak kagum ketika mendengar aku diterima
disana, sisanya hanya diam dalam wajahnya yang senap. Bagaimana anak
seorang karyawan di balai desa dapat lolos ujian masuk Universitas
setenar itu? Mereka tidak pernah bisa menerimanya.
Ku mantapkan kakiku untuk meninggalkan
desaku, walau air mata bundaku sebagai bayarannya. Bayaran yang mahal.
Aku tidak bisa menampik tamparan itu, tamparan karena sudah meninggalkan
ia sendirian di umurnya yang sudah mulai menua. Aku adalah anak
satu-satunya yang ia miliki, tapi bagaimanapun aku harus mengejar
mimpiku. Aku harus melangkah, aku harus menatap ke depan. Hari itu aku
tinggalkan ayah dan bundaku.
Di Jakarta aku menetap di sebuah rumah reot
yang sempit nan pengap, apa boleh buat. Hanya ini yang mampu aku sewa,
harga yang dapat aku jangkau. Tapi aku tidak menyerah, bagiku rumah ini
tidak terlalu buruk ketimbang masa depan yang suram. Aku tinggal di sana
selama empat setengah tahun, dan selama itu juga aku harus mampu hidup
dengan kiriman ayahku yang tidak seberapa. Aku kesal saat itu, tapi aku
tidak pernah menduga jika dengan uang yang mereka berikan, mereka
acapkali tidak makan.
Satu yang aku pelajari dari kehidupan baruku
di kota ini; semua ada harganya. Begitupun dengan harga diri, harganya
begitu mahal. Aku yang mereka bilang bocah desa yang miskin kerap jadi
lelucon, aku sering marah. Tapi aku tunjukan dengan prestasi yang aku
dapat, hampir setiap semester yang aku jalani berbuah hasil yang
fantastis. Nilaiku rata-rata empat, hanya sekali mendapat tiga koma
delapan. Itu pun karena saat itu ibuku sakit. Beberapa tahun kemudian
aku lulus dengan cum laude, dan sesegera mungkin aku kabarkan kepada
orang tuaku. Mereka senang bukan kepalang. Orang-orang yang menghinaku
seakan memakan bara panas ketika melihat kesuksesanku, sehabis lulus aku
mencari pekerjaan. Kukerahkan segala ilmu yang aku dapat untuk meniti
karir, dan perlahan-lahan karirku naik. Dalam sekejap sana penghasilanku
meroket, aku jadi orang kaya dan kegiatanku sebulan sekali adalah
keliling ke negara-negara yang ingin aku kunjungi; Amerika, Australia,
Perancis, Jerman, Belanda. Sisanya kau sebut saja, mungkin aku sudah
mengunjunginya.
Walaupun begitu, aku tidak pernah melupakan
ayah dan bundaku. Setiap satu bulan sekali aku mengirimi mereka uang
yang tidak sedikit, tidak pernah terlupa sama sekali. Tapi ternyata itu
saja tidak cukup, mungkin kehadiranku yang mereka tunggu. Tapi aku tidak
pernah hadir.
Beberapa bulan kemudian aku mendapat kabar
bawa ayah dan bundaku meninggal karena serangan jantung, mereka
meninggal di waktu yang sama. Aku segera memesan tiket untuk pulang, ku
tinggalkan semua pekerjaan yang menyita waktuku. Aku tersungkur di
hadapan jenazah ayah bundaku ketika aku sampai, air mataku tidak
henti-hentinya berderai. Aku merasa menyesal tidak pernah pulang
semenjak aku bekerja, bahkan aku tidak tahu bahwa ayah bundaku sudah
setua itu. Berbeda dengan wajah mereka di kala terakhir kali aku melihat
mereka, masih cukup muda dan segar. Setelah jenazah ayah bundaku
dikebumikan, aku bersikeras untuk tinggal di rumah lamaku, aku enggan
pulang ke kota. Ku katakan kepada orang-orang di tempatku bekerja bahwa
aku mengambil cuti panjang, hatiku masih lara akibat kepergian orang
tuaku. Aku ingin tinggal lebih lama di rumah ini untuk menyerap
kehadiran ayah bundaku yang sudah mulai kering di hatiku, aku butuh
menghirup udara yang sama yang aku hirup ketika aku masih kecil. Udara
yang berbau napas ibuku, dan keringat ayahku.
Ayah dan bundaku dikebumikan di tanah lapang
di sisi rumahku, itu adalah tanah kami. Rumah ini memang mempunyai lahan
yang luas, cukup luas untuk menghidupi kami dari setiap jengkalnya. Di
sana ayahku menanam banyak umbi-umbian, sayur-sayuran, dan
rempah-rempah. Kadang ketika angin sore berembus, aku dapat mencium
wangi rempah-rempah yang manis. Wangi tanahku, tempat lahirku. Kini di
sana ayah dan bundaku terkubur, di antara sayur mayur, umbi-umbian, dan
rempah-rempah yang mereka tanam. Kini setiap sore aku dapat mencium
wangi napas bundaku, dan keringat ayahku. Aku sejenak merasa hidup, aku
tidak pernah sehidup ini selama aku berjalan-jalan ke negara orang. Aku
seperti ikan sungai yang hidup di air laut, aku seperti burung bangau di
dalam sangkar. Bukan di sana tempatku, bukan di sana tanahku.
Tanahku di sini, di tempat aku dapat duduk dan mencium wangi napas bundaku dan keringat ayahku.
Sejauh apapun aku lari, aku pasti kembali ke
sini. Ke tanahku. Sebanyak apapun aku meminum arak anggur yang manis di
luar sana, aku akan selalu kembali untuk meminum air dari mata air di
tanah ini.
Aku cinta rumahku yang dapat membuatku nyaman, aku butuh tanahku yang dapat menghidupiku.
Aku cinta….
Ini adalah kesaksianku, kesaksianku atas nama
pahlawan tanpa nama yang berbaring di tanahku. Mereka yang telah
mengajarkanku bagaimana nikmatnya angin sepoi-sepoi di rumahku, dan
segarnya air dari tanahku.
Ini adalah suratku untuk mereka yang membaca,
mereka yang mempunyai mimpi yang sama besarnya denganku. Mereka yang
punya hasrat yang sama berkobarnya denganku. Maka pesanku, sebesar
apapun mimpimu, walaupun sebesar gunung sekalipun. Kau harus menengok
rumahmu, kau harus tidur di tikarnya yang beraroma pandan nan wangi, kau
harus duduk di berandanya yang penuh angin sepoi-sepoi. Dan sepanas
apapun hasrat yang ada di dadamu, kamu harus merawat tanahmu sendiri,
tanah yang menjadi tempatmu menanam umbi-umbian, sayur-sayuran, dan
rerempahan untuk kau makan. Tanah yang dari mata airnya kau melepaskan
dahaga, dan tanah yang di dalamnya kau akan berbaring selamanya sebagai
pahlawan tanpa nama.
Its prove MONEY cant buy happiness.