Mengerti kalau hidup cuma sekali.
Mengerti kalau sesudah tikungan itu mungkin garis akhir duduk menanti.
Kita pura-pura tak kenal berpikir mungkin ada yang tertinggal dan berancang-ancang mengambilnya kembali.
Katakanlah, unggunan api yang telah mati atau perjalanan itu sendiri atau CO2 yang pucat pasi.
Terlambat. Musiknya sudah dimainkan.
Riang, cepat, satir.