Monday, March 31, 2014

A HERO WITHOUT NAME

Gue ada satu buah cerita yang inshaaAllah bisa merubah pola pikir kalian semua. Silahkan di baca baik baik, di cermati isinya, di pahami maksudnya, dan renungkanlah. Happy Reading! bitch hahaha
 
Sudah lama aku tidak pulang ke rumah ayah bundaku, rumah di tengah pedesaan kecil bernama desa Mekar Asri. Cukup lama aku tinggal di sana, malah sampai usiaku hampir dewasa. Namun gejolak emosi mudaku yang ingin pergi ke tempat-tempat yang berbeda membuatku jengah berada di sana, aku ingin mengelilingi dunia. Dimana aku akan melihat tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya, aku sudah siap menghirup udara segar yang belum pernah ku hirup. Berbekal tekat yang sudah bulat, ku tinggalkan ayah bundaku. Aku pergi ke kota, Jakarta namanya. Kota yang akan menjadi pintu awalku untuk melihat dunia, di sana pula aku akan meneruskan pendidikanku. Buah hasil jerih payahku belajar di hamaran cahaya lampu minyak yang temaram hampir setiap malam, aku diterima di universitas paling bonafit di Jakarta. Namanya Universitas Indonesia, orang di desaku sebagian besar tidak ada yang tahu seperti apa tempat itu. Tapi para saudagar dan tuan tanah hampir semuanya berdecak kagum ketika mendengar aku diterima disana, sisanya hanya diam dalam wajahnya yang senap. Bagaimana anak seorang karyawan di balai desa dapat lolos ujian masuk Universitas setenar itu? Mereka tidak pernah bisa menerimanya.

Ku mantapkan kakiku untuk meninggalkan desaku, walau air mata bundaku sebagai bayarannya. Bayaran yang mahal. Aku tidak bisa menampik tamparan itu, tamparan karena sudah meninggalkan ia sendirian di umurnya yang sudah mulai menua. Aku adalah anak satu-satunya yang ia miliki, tapi bagaimanapun aku harus mengejar mimpiku. Aku harus melangkah, aku harus menatap ke depan. Hari itu aku tinggalkan ayah dan bundaku.

Di Jakarta aku menetap di sebuah rumah reot yang sempit nan pengap, apa boleh buat. Hanya ini yang mampu aku sewa, harga yang dapat aku jangkau. Tapi aku tidak menyerah, bagiku rumah ini tidak terlalu buruk ketimbang masa depan yang suram. Aku tinggal di sana selama empat setengah tahun, dan selama itu juga aku harus mampu hidup dengan kiriman ayahku yang tidak seberapa. Aku kesal saat itu, tapi aku tidak pernah menduga jika dengan uang yang mereka berikan, mereka acapkali tidak makan.

Satu yang aku pelajari dari kehidupan baruku di kota ini; semua ada harganya. Begitupun dengan harga diri, harganya begitu mahal. Aku yang mereka bilang bocah desa yang miskin kerap jadi lelucon, aku sering marah. Tapi aku tunjukan dengan prestasi yang aku dapat, hampir setiap semester yang aku jalani berbuah hasil yang fantastis. Nilaiku rata-rata empat, hanya sekali mendapat tiga koma delapan. Itu pun karena saat itu ibuku sakit. Beberapa tahun kemudian aku lulus dengan cum laude, dan sesegera mungkin aku kabarkan kepada orang tuaku. Mereka senang bukan kepalang. Orang-orang yang menghinaku seakan memakan bara panas ketika melihat kesuksesanku, sehabis lulus aku mencari pekerjaan. Kukerahkan segala ilmu yang aku dapat untuk meniti karir, dan perlahan-lahan karirku naik. Dalam sekejap sana penghasilanku meroket, aku jadi orang kaya dan kegiatanku sebulan sekali adalah keliling ke negara-negara yang ingin aku kunjungi; Amerika, Australia, Perancis, Jerman, Belanda. Sisanya kau sebut saja, mungkin aku sudah mengunjunginya.
Walaupun begitu, aku tidak pernah melupakan ayah dan bundaku. Setiap satu bulan sekali aku mengirimi mereka uang yang tidak sedikit, tidak pernah terlupa sama sekali. Tapi ternyata itu saja tidak cukup, mungkin kehadiranku yang mereka tunggu. Tapi aku tidak pernah hadir.

Beberapa bulan kemudian aku mendapat kabar bawa ayah dan bundaku meninggal karena serangan jantung, mereka meninggal di waktu yang sama. Aku segera memesan tiket untuk pulang, ku tinggalkan semua pekerjaan yang menyita waktuku. Aku tersungkur di hadapan jenazah ayah bundaku ketika aku sampai, air mataku tidak henti-hentinya berderai. Aku merasa menyesal tidak pernah pulang semenjak aku bekerja, bahkan aku tidak tahu bahwa ayah bundaku sudah setua itu. Berbeda dengan wajah mereka di kala terakhir kali aku melihat mereka, masih cukup muda dan segar. Setelah jenazah ayah bundaku dikebumikan, aku bersikeras untuk tinggal di rumah lamaku, aku enggan pulang ke kota. Ku katakan kepada orang-orang di tempatku bekerja bahwa aku mengambil cuti panjang, hatiku masih lara akibat kepergian orang tuaku. Aku ingin tinggal lebih lama di rumah ini untuk menyerap kehadiran ayah bundaku yang sudah mulai kering di hatiku, aku butuh menghirup udara yang sama yang aku hirup ketika aku masih kecil. Udara yang berbau napas ibuku, dan keringat ayahku.

Ayah dan bundaku dikebumikan di tanah lapang di sisi rumahku, itu adalah tanah kami. Rumah ini memang mempunyai lahan yang luas, cukup luas untuk menghidupi kami dari setiap jengkalnya. Di sana ayahku menanam banyak umbi-umbian, sayur-sayuran, dan rempah-rempah. Kadang ketika angin sore berembus, aku dapat mencium wangi rempah-rempah yang manis. Wangi tanahku, tempat lahirku. Kini di sana ayah dan bundaku terkubur, di antara sayur mayur, umbi-umbian, dan rempah-rempah yang mereka tanam. Kini setiap sore aku dapat mencium wangi napas bundaku, dan keringat ayahku. Aku sejenak merasa hidup, aku tidak pernah sehidup ini selama aku berjalan-jalan ke negara orang. Aku seperti ikan sungai yang hidup di air laut, aku seperti burung bangau di dalam sangkar. Bukan di sana tempatku, bukan di sana tanahku.
Tanahku di sini, di tempat aku dapat duduk dan mencium wangi napas bundaku dan keringat ayahku.
Sejauh apapun aku lari, aku pasti kembali ke sini. Ke tanahku. Sebanyak apapun aku meminum arak anggur yang manis di luar sana, aku akan selalu kembali untuk meminum air dari mata air di tanah ini.

Aku cinta rumahku yang dapat membuatku nyaman, aku butuh tanahku yang dapat menghidupiku.

Aku cinta….

Ini adalah kesaksianku, kesaksianku atas nama pahlawan tanpa nama yang berbaring di tanahku. Mereka yang telah mengajarkanku bagaimana nikmatnya angin sepoi-sepoi di rumahku, dan segarnya air dari tanahku.

Ini adalah suratku untuk mereka yang membaca, mereka yang mempunyai mimpi yang sama besarnya denganku. Mereka yang punya hasrat yang sama berkobarnya denganku. Maka pesanku, sebesar apapun mimpimu, walaupun sebesar gunung sekalipun. Kau harus menengok rumahmu, kau harus tidur di tikarnya yang beraroma pandan nan wangi, kau harus duduk di berandanya yang penuh angin sepoi-sepoi. Dan sepanas apapun hasrat yang ada di dadamu, kamu harus merawat tanahmu sendiri, tanah yang menjadi tempatmu menanam umbi-umbian, sayur-sayuran, dan rerempahan untuk kau makan. Tanah yang dari mata airnya kau melepaskan dahaga, dan tanah yang di dalamnya kau akan berbaring selamanya sebagai pahlawan tanpa nama.

Its prove MONEY cant buy happiness.

Thursday, March 20, 2014

Jakarta 19 Maret

Segala yang kuberiiiii tak pernah berartiiii berat terasaaa habiskan darahkuuu menusuk tulangkuuu ooooo yg lelaaahh.... Jakarta 19 Maret.

Sunday, December 15, 2013

SOMEDAY.

YOU MUST BE UNDERSTAND. SOMEDAY.

Still

He still there. Everyone you want to forget if you try so hard it's just make them still on your mind. Why? Cause by they not really stay away from your mind if you hating them. They all just running on your mind. Try to ignore it. Everything bad moment with them and if its happening again in the future it just only remind them. Trust me. I hate it.

Tuesday, July 23, 2013

My fucking life.


Do you ever feel like breaking down? Do you ever feel out of place? Like somehow you just don't belong and no one understands you. Do you ever wanna runaway? Do you lock yourself in your room? With the radio on turned up so loud that no one hears you screaming. Do you wanna be somebody else? Are you sick of feeling so left out? Are you desperate to find something more? Before your life is over. Are you stuck inside a world you hate? Are you sick of everyone around? With their big fake smiles and stupid lies while deep inside you're bleeding. No you don't know what it's like, when nothing feels all right. You don't know what it's like, to be like me. No one ever lied straight to your face, no one ever stabbed you in the back. You might think I'm happy but I'm not gonna be okay. Everybody always gave you what you wanted, never had to work it was always there. You don't know what it's like, what it's like! To be hurt! To feel lost! To be left out in the dark! To be kicked when you're down! To feel like you've been pushed around! To be on the edge of breaking down and no one's there to save you! No you don't know what it's like! WELCOME TO MY FUCKING LIFE!

The fucking truth of fucking life.

Tuesday, June 18, 2013

RANDOM

Kopi Panas. Cinta itu seperti kopi panas, paling enak di minum saat panas tapi resikonya ya cepet abis. Caranya biar ga cepet abis? Ya di minumnya pelan-pelan tapi kalo di minum pelan-pelan resikonya keburu dingin.

Terbang. Tiap manusia bisa terbang, yang di butuhkan hanya seseorang untuk menunjukan bagaimana melebarkan sayapnya.

Luka. Seni dari hidup itu adalah tinggal bersama luka dan setiap hari masih bisa tertawa.

Bahasa gue ketinggian ya? HAHAHA ya namanya juga idup~

P E R H A T I A N

Begitu penting kah sebuah perhatian? YAP!!! Perhatian itu sangat PENTING. Perhatian bagai kekuatan yang dapat mengobati. Kenapa? Karena saat ada seseorang yang terjatuh disitu lah dia sangat membutuh kan perhatian. Walau sekedar lu nemenin dia duduk atau malah lu dengerin dia cerita dan lu kasih saran. Perhatian itu obat penawar luka. Perhatian membuat siapapun merasa diinginkan. Sebuah pelukan, ciuman sayang sekarang dan nantinya, untuk memperlihatkan bahwa dia peduli. Perhatian menunjukan perasaan yang murni kasih sayang dari seseorang, dengan arti gue sayang sama lu, yaitu Jika lu punya ketakutan, datanglah ke gue. Jadi, jika lu tergelincir dan gagal. Jangan khawatir, gue disini menemani lu.... Memberi kepastian.... Perhatian....

Gue punya cerita nih dulu di suatu pulau, ketika penduduk asli ingin bagian hutan untuk di tanami, mereka tidak menebang pohon. Mereka bersama-sama mengelilingi pohon dan meneriakan kata-kata kasar dan itu menumbangkannya. Pada suatu hari pohonnya menjadi layu, dia mati dengan sendirinya. Ngerti maksudnya? Jadi gini maksudnya gue jelasin. Jangan kan orang kalo di hina-hina atau di kucil kan atau di cakin atau apalah itu menurut lu, pohon aja kalo di gituin bisa layu dan mati apalagi orang? Maksudnya tuh bukan orang kalo dikata-katain gitu langsung mati-_- ya kaliiii, maksudnya tuh pendirian dia atau jati diri dia mati dalam arti hilang. Kalo ada orang yang udah ilang pendiriannya jangan lu kata-katain tapi lu kasih perhatian kaya tadi diatas yang gue bahas. Udeh segitu dulu dari gue~